Peluang Indonesia Ketersediaan Bahan Baku Transportasi Listrik
Permasalahan lingkungan masih menjadi persoalan besar bagi negara-negara di dunia ini. Salah satu di antaranya adalah persoalan udara bersih. Di beberapa negara khususnya di negara berkembang seperti di China, India, Pakistan, Indonesia, Bangladesh, dsb mengalami permasalahan udara bersih yang pasalnya disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kegiatan industri, gas emisi transportasi, aktivitas sosial dengan padatnya populasi penduduk, pengaruh kebijakan pemerintah atau daerah, dsb. Persoalan ini menjadi semakin serius karena berdampak terhadap keberlangsungan hidup, sosial, dan kesehatan manusia di dunia.
Saat ini sebanyak 90 persen orang di dunia bernapas dengan udara yang tercemar oleh polusi udara atau udara tidak bersih. Mengutip dari perkataan WHO (World Health Organization) bahwa “udara kotor membunuh sekitar tujuh juta manusia pertahunnya”. Riset oleh WHO mengatakan partikel-partikel dari sisa-sisa pembakaran dan pabrik industri dalam jumlah yang besar apabila dihirup oleh manusia dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang umumnya pada kesehatan paru-paru, permasalahan pernapasan, bahkan kanker. Untuk itu, negara-negara di dunia berlomba-lomba untuk mengatasi permasalahan ini. Mengatasi persoalan polusi udara membutuhkan kekuatan dan saling mendukung baik dari pemerintah pusat mau pun masyarakatnya. Saya mengamati di negara-negara maju pemerintahnya menerapkan regulasi yang tegas degan sistem yang jelas. Salah satunya, yaitu kebijakan mengurangi transportasi pribadi dengan melakukan penerapan menggunakan transportasi umum bagi masyarakatnya itu sangat membantu mengurangi polusi udara dan tentunya disertai dengan fasilitas yang memadai dan regulasi yang jelas. Selain itu, mengurangi emisi gas baik itu dihasilkan oleh transportasi atau dari pabrik perindustrian.
Emisi gas merupakan sisa-sisa pembuangan atau hasil pembakaran oleh bahan bakar di dalam mesin yang berproses. Bahan bakar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari pada umumnya adalah bahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas alam). Itu merupakan sumber energi yang tidak terbarukan disebabkan oleh ketersediaan sumber energinya yang tidak bertahan lama dan akan habis pada masa-masa tertentu. Maka dari itu, kita membutuhkan sumber energi terbarukan sebagai penggantinya dan terus melakukan pembaharuan menemukan energi yang lebih murah dengan berkelanjutan.
Dengan berbagai permasalahan tesebut dewasa ini tentunya negara di belahan dunia khususnya di negara-negara maju berlomba-lomba untuk berinovasi dan mengurangi polusi udara, salah satunya dengan shifting dari menggunakan mobil atau motor dengan bahan bakar fosil menjadi bahan bakar atau sumber energi listrik sebagai penggantinya untuk meggerakkan suatu kendaraan. Mulai dari transportasi umum sampai dengan transportasi pribadi. Untuk menjalankan mesin transportasi listrik itu tentunya dibutuhkan bahan baku utama, yaitu baterai dalam daya yang cukup untuk menjalankannya. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Dr.mont. M. Zaki Mubarok, S.T., M.T., saat pidato ilmiah dalam Sidang Terbuka Peresmian Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) Program Doktor, Magister, dan Program Profesi Semester II Tahun 2019/2020 di Gedung Sabuga ITB, bahwa “industri transportasi listrik dunia diprediksi akan cepat tumbuh dalam beberapa tahun ke depan dan Indonesia dapat memainkan peran penting dan strategis dalam industri ini”. “Bahan baku utama baterai mampu memberikan kontribusi sebanyak 35%-40% dari harga mobil listrik dan terpenting lagi adalah material atau kandungan yang ada dalam baterai tersebut menjadi komponen biaya terbesar mencapai 60% dari total biaya pembuatan baterai” jelasnya, mengutip dari perkataan beliau. Kemudian, pada umumnya ada dua jenis baterai listrik yang dipakai saat ini, yaitu Lithium-ion (Li-ion) dan Nickel Metal Hydride (NiMH). Baterai Li-ion menggunakan unsur logam litium dan kobalt sebagai elektroda, sementara itu NiMH memanfaatkan nikel.
Meskipun Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) masih menelusuri melakukan penelitian dan eksplorasi kandungan sumber lithium di Indonesia, faktanya Indonesia adalah salah satu negara penghasil dan pengekspor nikel terbesar di dunia. Indonesia sangat diuntungkan dengan adanya nikel dan kobalt yang melimpah ruah. Pemerintah harus mengambil perananan strategis dalam industri ini kemudian mempertahankan sumber daya energi ini untuk dikelola dengan baik oleh negara untuk memenuhi permintaaan pasar yang tinggi. Tentunya ini menjadi peluang yang besar untuk Indonesia memperkuat ekonomi negara dan menjadi pionir bagi negara Asia bahkan dunia. Negara produsen nikel lainnya adalah Amerika Serikat, China, Australia, Brasil, dan beberapa negara Afrika. Bahkan China yang mempunyai cadangan nikel memadai masih mengimpor dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industrinya. Pasalnya juga berdasarkan peraturan Presiden No.55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan yang sudah disetujui karena ketersediaan bahan baku yang memadai dan kebutuhan masa depan memperkuat pengembangan industri dalam negeri. Perusahaan asing pun siap berinvestasi di Indonesia. Tidak hanya itu, nikel juga sebagai bahan baku untuk baterai mobile phone yang mana kini semakin meningkatnya kebutuhan tersebut untuk menggunakan alat komunikasi itu dan sebagai akses media dalam jaringan.
Saat ini industri nikel mulai dikembangan oleh beberapa perusahaan dengan perencanaan pembangunan smelter di dalam negeri. Pasalnya perusahaan-perusahaan yang sedang mengembangkan terkendala dengan isu lingkungan, dimana limbah-limbah pabrik dari proses pengolahan bahan baku ini menjadi hal yang penting untuk diperhatikan bagi lingkungan sekitar. Hal ini tentunya masih menjadi tantangan dan fokus untuk didiskusikan kembali. Persoalan lingkungan adalah hal utama yang harus diperhatikan oleh semua aspek kepentingan, sebab itu masyarakat turut berpartisipasi dalam pengawasan dan pemerintah menjamin industri ini benar-banar di dalam naungannya. Indonesia akan menjadi pelopor dalam mensuplai bahan baku transportasi listrik dunia. Harapan masyarakat adalah industri ini tidak didominasi oleh pihak-pihak tertentu, asing, dan elit politik. Kemudian, mempunyai dampak yang manfaatnya bisa dirasakan bagi negara dan masyarakat lokal di berbagai kalangan.
Perkembangan pesat teknologi membawa era ini semakin terus maju dan menuntut masyarakat di berbagai belahan dunia berinovasi untuk menyelesaikan beberapa persoalan di dunia. Transportasi listrik bukan lagi mimpi, tetapi masa depan yang akan menjadi realita. Negara-negara di Eropa, Amerika, China menjadi pioneer dalam hal ini yang mana hal ini berdampak besar untuk dapat mengatasi permasalahan lingkungan dan mengurangi polusi udara disebabkan oleh transportasi bahan bakar fosil. Bukti nyatanya adalah terlihat mobil listrik dalam ajang pameran mobil di Indonesia dan beberapa orang yang sudah menggunakan. Tentunya ini menjadi sebuah harapan bagi anak bangsa tidak hanya menggunakan produk dari luar dan akan tetapi membutuhkan tahapan yang panjang bagi Indonesia untuk mempunyai industri transportasi listrik sendiri yang dapat mengurangi kebisingan dan polusi udara. Untuk itu, tetap terbuka dengan perkembangan dunia khususnya sumber energi, sumber kekayaan alam yang dimiliki, berdaulat dalam mengelolah sumber daya alam lokal dan bersama-sama menjaga udara bersih lingkungan guna keberlangsungan hidup ini.
Daftar Pustaka:
1. (Permana, Adi. 2020. Melihat Peluang Penyediaan Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia. https://www.itb.ac.id/news/read/57384/home/melihat-peluang-penyediaan-bahan-baku-baterai-kendaraan-listrik-di-indonesia, 07 Juni 2020).
2. (Ernowo, Dwi Nugroho Sunuhadi, Meohamad Awaludin. Kertersediaan Nikel dan Kobalt Untuk Bahan Industri Baterai Listrik di Indonesia. http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1214&Itemid=610, 07 Juni 2020).
3. (Widyanuratikah, Inas. 2018. WHO: Kualitas Udara di Negara Maju dan Berkembang Berbeda. https://republika.co.id/berita/trendtek/sains-trendtek/18/05/03/p854fc366-who-kualitas-udara-di-negara-maju-dan-berkembang-berbeda, 07 Juni 2020).
Komentar
Posting Komentar