OPINI #1 (Covid-19)

Hadirnya Covid-19 pandemic dewasa kini suatu virus yang menjadi wabah di seluruh dunia memberikan ancaman pada kesehatan seluruh manusia sehingga angka kematian meningkat di sejumlah negara yang sudah terserang wabah ini. COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) pertama kali terjadi di Negara China pada 2019 akhir. COVID-19 apabila dikelompokkan masih berasal dari virus keluarga yang sama dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pertama kali mewabah di China pada tahun 2002, dan MERS (Middle-East Respiratory Syndrome) pertama kali muncul di Timur Tengah pada tahun 2012. Namun, ke-3 nya mengalami perbedaan mulai dari masa inkubasi, gejala dan penyebarannya, serta pengobatannya. Masa inkubasi COVID-19  ini selama 14 hari, dengan rata-rata 5 hari diawal. Penyebaran COVID-19 dari hewan ke manusia sebenarnya sangat jarang, tapi hal inilah yang terjadi pada COVID-19. Manusia dapat tertular coronavirus lewat kontak langsung dengan hewan yang terjangkit virus ini. Cara penyebaran ini disebut transmisi zoonosis. Coronavirus ini transmisi penyebaraanya bisa diduga dari hewan seperti kelelawar dan ular tentunya ini dalam perspektif medis. Kemudian, seseorang juga dapat terjangkit virus Corona apabila menghirup percikan air liur (dropled) yang dikeluarkan oleh seseorang atau penderita COVID-19 saat bersin atau batuk. Tidak hanya itu, penularan juga dapat terjadi jika seseorang memegang benda yang telah terkontaminasi percikan air liur penderita COVID-19 lalu memegang hidung atau mulut tanpa mencuci terlebih dahulu. Selanjutnya, dalam masa penyembuhan COVID-19 sejauh ini para ahli medis di sejumlah negara masih mengembangkan vaksin dari virus ini. 

Seperti yang diketahui, virus ini menyerang saluran pernapasan yang mengakibatkan penderitanya mengalami indikasi pada umumnya seperti susah untuk bernafas, suhu tubuh meningkat, disertai dengan batuk dan bersin, diare. Gejala-gejala ini pun tidak semuanya dialami oleh setiap orang, masing-masing tubuh mengalami reaksi yang berbeda dan tergantung dengan tingkat kompleksitasnya, bahkan orang yang terinfeksi virus ini tidak langsung mengalami gejala tersebut. Di Indonesai untuk mendeteksi terinfeksi COVID-19 pada seseorang bisa dilakukan dengan 2 tahapan, yaitu pertama dengan sreening/Rapid test disesuaikan dengan alatnya. Namun, screening tes ini hanya bisa mendeteksi ada atau tidaknya imunitas tubuh yang muncul akibat peradangan pada organ tubuh, belum bisa membuktikan dengan jelas apakah seseorang yang dites itu positif  terinfeksi virus corona. Tahapan ke-2, orang yang diduga memiliki indikasi akan diperiksa swab atau dengan PCR. Dari tahapan ke-2 ini lebih akurat untuk mendeteksi apakah seseorang tersebut positif  terinfeksi virus ini. 

Covid-19 Virus tidak hanya menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan manusia di bumi ini akan tetapi mengubah  dan memicu perekonomian negara di dunia. Hal ini mendorong pemerintah di berbagai negara untuk mengambil sikap dan megeluarkan beberapa kebijakan kepada publik sesuai dengan masalah serta dampak yang dihadapi di negara tersebut. Pemerintah Korsel menyikapi hal ini dengan mengambil tindakan, seperti melarang warga negaranya untuk berpergian, melarang pertemuan dengan keadaan orang-orang yang ramai, dan warga negaranya hanya diperbolehkan melakukan aktivitas di dalam rumah (physical distancing). Bebeda dengan Italia, selain dengan meminta warga negaranya untuk tetap berada di rumah, Pemerintah Italia mengambil sikap untuk mengkarantina total (lockdown) setiap wilayah dan kota bertujuan untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus ini. Kebijakan ini tentunya berdampak dengan perekonomian negara tersebut. Karena, apabila akses tiap wilayah di negara itu di lockdown total, dari segi ekonomi akan mempengaruhi distbusi suatu barang menyebabkan tidak adanya transaksi sehingga pendapatan negara bisa menurun. Ke-2, dengan keadaan wilayah di karantina pemerintah tentunya mempersiapkan   dan menjamin distribusi pasokan pangan warga negaranya. Perlu kita ingat kembali Italia adalah negara maju, bagaimana bila kebijakan seperti ini diterapkan pada negara berkembang apakah akan sesuai dengan realita. Di negara berembang, misalnya di Indonesia. Tentunya pemerintah Indonesia sudah menyikapi hal ini dengan mengeluarkan beberapa kebijakan yang tidak berbeda dengan Korsel, yaitu mengkampanyekan warga negaranya untuk tetap tinggal di dalam rumah dan akan mengkarantina beberapa wilayah yang sudah menjadi zona merah. Untuk perihal mengkarantina total wilayah yang ada di Indonesia ini masih menjadi pertentangan, singkatnya pada akhirnya pemerintah harus siap mendistribusikan pasokan pangan kepada warga negaranya tanpa memandang status. Ini menjadi sebuah dilema bagi pemerintah Indonesia, bisakah anggaran kas negara mencukupi kebutuhan masyarakatnya selama wilayah tersebut dikarantina dengan beberapa resiko dan pertimbangan tentunya. Apabila ditelisik dari segi berdampaknya kebijakan yang ditetapkan ini pada buruh pabrik, tentunya pekerja tidak bisa bekerja. Mungkin, seperti pegawai PLN, buruh pabrik, pelaku ekonomi mikro dan umkm-umkm kecil, dsb tidak bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan pokok masyarakatnya dan tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok sendiri. Ini akan mengancam kehidupan manusia di bumi, bayangkan apabila pasokan listrik, pangan, serta energi lainnya tidak terpenuhi boleh jadi ini awal mula indikasi krisis pada sebuah negara. Kemudian, Ini menjadi sebuah pertanyaan besar bagi masyarakat Indonesia, negara dengan sumber daya alam memadai bisa diasumsikan masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakatnya terlihat dari langkah-langkah yang diputuskan oleh pemerintah dalam menangani kasus Covid-19 ini. Kemudian, patut kita mengapresiasi peran menteri BUMN dalam menanggapi hal ini tentunya berkoordinasi melalui Mitra BUMN nya, yaitu dengan memberikan pengadaan fasilitas berupa wisma sebagai tempat untuk menangani, merawat, dan mengobati orang-orang yang terkena virus ini sekaligus berperan sebagai rumah sakit. Itulah salah satu peran BUMN, lalu bagaimana dengan peran pemuda Indonesia, apa yang bisa dilakukan pemuda di tengah-tengah wabah ini. 

Berdasarkan data, di Indonesia saat ini (7/04/2020) terkonfirmasi sudah 2.738 orang positif terinfeksi Covid-19, sembuh dari virus ini sekitar 204 orang, dan meninggal ada 221 orang. Kemudian, 24 orang tenaga medis meninggal pada hari ini untuk berjuang menangani Covid-19 di Indonesia. Virus ini dapat disembuhkan dengan seiring meningkatnya daya imunitas atau zat alami yang diproduksi oleh tubuh seseorang untuk memerangi virus dalam konteks ini. Untuk itu, wajib hukumnya bagi semua kalangan masyarakat meningkatkan daya tahan tubuh untuk memerangin virus ini. Mulai dari tahap pencegahan dengan memakai masker apabila berada di luar rumah, mencuci tangan dengan sabun dan air bersih, tidak memegang muka, hidung, dan mata, serta terpenting adalah menjaga kesehatan dengan memperhatikan pola hidup sehat, makan dan minum teratur dengan memenuhi pola gizi seimbang, tidur teratur, dan disiplin olahraga tentunya. Tetaplah berada di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini, karena bisa saja orang yang tidak terlihat mengalami gejala tersebut juga terinfeksi serta bisa mentramisikan virus tersebut kepada orang lain. Mari sama-sama berjuang memerangi virus ini, batasi mobilisasi sosial, tetap berada di rumah, ikuti aturan pemerintah, jauhkan pikiran dari isu politik internal, satukan frame untuk menuntaskan Covid-19 saat ini, jangan mudah terpengaruh oleh beberapa kepentingan dan terakhir, tidak lupa juga untuk memberikan semangat dan kontribusi bagi tenaga medis yang sudah berjuang di garda terdepan bisa melalui donasi, menjadi relawan, dsb. Sayangi keluarga dan Orang-orang terdekat Anda. Dibalik cobaan ini pasti ada hikmah, Kita semua yakin dan optmis bahwa negara ini akan segera pulih, bersama-sama saling bahu-membahu saat ini, tentunya dengan belajar dari masa lalunya untuk  menjadi negara yang kuat serta berdikari di kemudian hari.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepintas Negara Jepang

Disiplin Menjadi Rutinitas