Sepintas Negara Jepang

Jepang adalah negara yang kaya dengan kebudayaannya. Jepang mempunyai budaya yang unik dan ciri khas yaitu Culture Pop atau Mass Culture salah satunya.  Budaya Massa adalah budaya yang diproduksi dan dikonsumsi secara masal oleh suatu negara atau institusi dimana produk budayanya itu bersifat pabrikan dapat ditemukan di mana saja dan dengan mudah untuk dikonsumsi oleh orang banyak. Tujuannya tidak lain adalah untuk mencitrakan budaya negaranya dan membangun perekonomian negara melalui budaya. Dilihat dari segi kesastraan, misalnya Anime dan Manga. Seperti yang kita ketahui bersama di Indonesia, anime dan manga telah melekat pada kehidupan sehari-hari dan bahkan sejak kita masih kecil. Di Indonesia Anime dan Manga digemari oleh anak kecil, anak muda hingga orang dewasa. Salah satunya anime dan manga ‘doraemon’ yang popular.

Pada kesempatan ini, saya akan memperkenalkan Jepang dari berbagai sudut pandang. Segi teknologi, tah kalah hebatnya Jepang adalah salah satu negara yang menjadi negara panutan bagi negara lain dalam hal teknologi. Mulai dari kecepatan internet, pelayanan oleh robot, mesin canggih, alat-alat elektronik dsb. Begitu juga di bidang otomotif, ini faktor utama yang menjadi penyokong perekonomian negaranya. Perusahaan transportasi di Jepang selalu mengekspor produk-produknya (mobil, motor) ke negara-negara berkembang. Seperti yang kita ketahui produk merknya seperti Honda, Yamaha, Suzuki, Toyota, dsb.

Selain itu, Jepang dari segi karakteristik penduduk lokal dan kultur hidup sangat menarik untuk kita pelajari bersama. Orang-orang lokal Jepang sangat santun dan sopan ketika berkomunikasi. Terlihat ketika bertemu orang yang lebih tua atau jabatannya lebih tinggi Nihon Jin melakukan Ojigi. Orang-orang Jepang juga menerapkan prinsip Kaizen, artinya hidup ini harus mengalami perbaikan yang terus-menerus dan Hansei, artinya selalu mengevaluasi hidup atau perbuatan yang dilakukan. Orang Jepang juga type pekerja keras, pantang menyerah, inovatif, kreatif, disipilin, mandiri, setia, kerja tim yang bagus, sehingga mempengaruhi kapasitas sumber daya manusianya untuk menjadi negara maju. Dan orang Jepang sangat menjaga kelestarian budaya nya, salah satunya adalah budaya membaca yang sudah menjadi tradisi saat kecil, remaja, hingga dewasa. Kemudian budaya mengenakan pakaian adat (kimono), duduk dengan berlutut (seiza), dsb. Kebiasaan seperti itu yang akan memperkokoh nilai-nilai kebudayaan Jepang.

Jepang, ketika mendengar kata ‘Jepang' banyak sekali isu-isu global yang terlintas di kepala kita. Misalnya, isu karyawan perusahaan yang bunuh diri atau terkena serangan jantung yang diakibatkan oleh jam kerja lembur yang berlebihan. Istilah ini biasa disebut dengan ‘Karoshi'. Karoshi semakin meningkat di Jepang seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan perusahaan. Karoshi disebabkan oleh tuntutan kerja yang tinggi dan terlalu mencintai perkejaannya. Indikasi dari karoshi ini seperti serangan jantung, bunuh diri, dan menyendiri, menutup diri (depresi). Solusi pemerintahan Jepang terkait hal ini  adalah mengeluarkan peraturan tertulis mengenai batas minimum pemberlakuan jam kerja di tiap perusahaan Jepang. Seperti, ’Jum’at Premium’, yaitu karyawan dibolehkan pulang kerja pada jam 15.00 dan terlebih yang mempunyai anak di rumah. Beberapa perusahaan juga membatasi dan mengurangi jam kerja lembur para karyawan perusahaannya. Hal ini menarik untuk dibahas lebih lanjut.


Isu ke-2 yang tak kalah menariknya adalah krisis kependudukan yang dihadapi negara Jepang. Angka kelahiran dan kematian pada usia muda menurun sehingga menyebabkan usia tua lebih banyak dari pada usia muda. Itu disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu perang, bencana alam, mindset untuk tidak menikah dan memiliki keturunan dan robot yang menggantikan peran manusia. Karena saya kira, biaya pernikahan dan tanggungan ketika mempunyai anak besar meskipun pemerintah sudah mensubsidikan dalam programnya tetapi masih dianggap kurang mencukupi sehingga masyarakat Jepang lebih memilih tidak menikah dan memiliki anak. Kemudian, menurut saya adanya budaya workaholic menyebabkan masyarakat dan wanita khususnya lebih ingin mengutamakan kariernya. Jika masyarakat Jepang sudah memilih kariernya, otomatis mereka akan maksimal dalam pekerjaannya dan seringkali meninggalkan tanggung jawabnya ketika berkeluarga. Untuk meningkatkan jumlah penduduk usia mudanya, pemerintah Jepang menawarkan beberapa kebijakan, seperti program beasiswa ke Jepang bagi orang asing untuk belajar, penelitian, magang, pelatihan di negaranya. Menarik bagi saya mempelajari isu-isu global negara Jepang tidak hanya dari budaya dan sejarahnya, melainkan mengkaji dari perespektif yang berbeda. Saya sangat ingin mengetahui dan mempelajari isu-isu di negara Jepang, apakah seperti yang dikatakan orang-orang bahwa penduduk Jepang sangat homogen dan tertutup, dan apakah isu yang saya sebutkan di atas memang terjadi di Jepang saat ini atau malah sebaliknya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disiplin Menjadi Rutinitas

OPINI #1 (Covid-19)