Menghadapi Tantangan Di Era Disrupsi

Sejarah mencatat bahwa bangsa ini telah melewati beberapa era dan generasi. Mulai dari era kerajaan, kolonial, kemerdekaan, orde baru, reformasi sampai dengan era digital atau disrupsi saat ini. Banyak sekali hal-hal yang bisa diamati dari hasil perkembangan zaman tersebut. Sederhananya, dahulu orang jika pergi ke suatu tempat dengan berjalan kaki. Seiring berkembangnya zaman orang-orang bisa menciptakan transportasi dan berpergian ke suatu tempat bisa menggunakan mobil, motor, sepeda, pesawat, kapal, transportasi umum dsb. Ditambah lagi di era disrupsi ini transportasi semakin canggih kendaraan tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak tetapi digantikan dengan listrik. Kemudian dengan tampilan yang lebih futuristik dan fiture yang lebih canggih dengan konsep one touch and digital. Di era digital Masih banyak lagi perubahan-perubahan yang mengakar, mengubah pandangan seseorang, bahkan manusia bisa ketergantungan dengan hal itu.

Digitalisasi adalah akibat dari evolusi teknologi (terutama informasi) yang mengubah hampir semua tatanan kehidupan, termasuk tatanan dalam berusaha. Teori Digital adalah sebuah konsep pemahaman dari perkembangan Zaman mengenai Teknologi dan Sains, dari semua yang bersifat manual menjadi otomatis dan dari semua yang bersifat rumit menjadi ringkas. Digital adalah sebuah metode yang kompleks dan fleksibel yang membuatnya menjadi sesuatu yang pokok dalam kehidupan manusia (Aji, 2016). 

Di Era Digital ini, semua model kehidupan atau kegiatan sehari-hari akan berubah secara  besar-besaran dan drastis. Perubahan ini dengan istilah yang biasa disebutkan yaitu, Disrupsi.  Clayton M. Christensen, salah satu professor di Harvard Business School sudah bertahun-tahun lalu memperkenalkan konsep Disruptive Innovation, yang tentunya tidak hanya berupa cerita praktis, tapi sudah diterjemahkan menjadi berbagai jurnal ilmiah dan akademis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2012:1), disrupsi didefinisikan suatu hal yang tercabut dari akarnya. Menurut Merriam-Webster (1622), disrupsi adalah tindakan atau proses mengganggu sesuatu: istirahat atau gangguan dalam perjalanan normal atau kelanjutan dari beberapa kegiatan, proses, dll. Sebagian pihak mengatakan bahwa disrupsi adalah sebuah ancaman. Jika tidak dapat mengelolanya maka banyak sekali dampak negatif yang akan bermuculan. Berdasaran artikel (Tahun Disrupsi, 2018) Rheinald Kasali memberikan tiga hal untuk menghadapi era disrupsi ini. Pertama adalah jangan nyaman menjadi pemenang. Organisasi yang merasa sangat nyaman selalu berasumsi bahwa pelanggan mereka sudah sangat loyal. Padahal, ketika terjadi perubahan fundamental saat ini, perlu ditengok ulang lagi apakah terjadi pergeseran segmen konsumen yang bisa jadi berkarakter lain dengan konsumen lama. Kedua adalah jangan takut menganibalisasi produk sendiri. Cara ini sepertinya menjadi cara yang sadis karena harus membunuh produk sendiri dan melahirkan produk baru. Inilah yang dikatakan perubahan mendasar dalam organisasi jika menghadapi era disrupsi. Ketiga adalah membentuk ulang atau menciptakan yang baru. Melakukan inovasi dengan memodifikasi yang sudah ada dalam bentuk lain atau bahkan menciptakan hal baru akan membuat organisasi akan bisa bertahan. Banyaknya perubahan (Disrupsi) dan  peralihan (Shifting) yang terjadi dari yang konvensional berubah menjadi modern dan pola pikir manusia juga berubah. Karena hal ini, penulis terpacu untuk membuat makalah dengan judul “Menghadapi Tantangan di Era Disrupsi” agar masyarakat  paham menghadapi perkembangan dunia yang sangat cepat dan perubahan diberbagai sektor, dapat memanfaatkannya untuk memermudah pekerjaan sehari-hari, dan tidak menutup mata pada perkembangan zaman.

  1. Disrupsi

1. Definisi


Secara bahasa, disruption artinya gangguan atau kekacauan; gangguan atau masalah yang mengganggu suatu peristiwa, aktivitas, atau proses (disturbance or problems which interrupt an event, activity, or process). Secara praktis, disrupsi adalah perubahan berbagai sektor akibat digitalisasi dan “Internet of Thing” (IoT) atau “Internet untuk Segala” (Romeltea, 2019). 


Menurut Professor Rhenald Kasali (Guru Besar Universitas Indonesia), Disrupsi adalah sedang terjadi perubahan yang fundamental atau mendasar. Satu di antara yang membuat terjadi perubahan yang mendasar adalah evolusi teknologi yang menyasar sebuah celah kehidupan manusia. Didalam bukunya Self Disruption beliau menjelaskan bahwa Disrupsis pada dasarnya adalah perubahan. Suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat hadirnya masa depan ke masa kini. Perubahan semacam itu membuat segala sesuatu yang semula berjalan dengan normal tiba-tiba harus berubah dan berhenti mendadak akibat hadirnya sesuatu yang baru. Di sini, yang dimaksud sebagai sesuatu yang baru bisa banyak hal: teknologi baru, proses bisnis yang baru, para pemain baru, aplikasi yang baru, model bisnis yang baru, atau kombinasi dari berbagai faktor tersebut. Perubahan semacam inilah yang membuat para petahana dan pemain lama bak kebakaran jenggot. Mereka tak tahu cara menanggapinya. Itu karena mindset mereka, cara-cara berpikir mereka, masih memakai pola-pola atau dengan cara-cara lama, cara-cara yang konvensional. Padahal, perubahan yang tengah terjadi tidak konvensional (Tahun Disrupsi, 2018).
2. Faktor-faktor Penyebab 

Perlu kita sadari bahwa dunia telah berubah dari tiap sisinya. Professor Rhenald Kasali (2017) memaparkan bahwa disrupsi disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Teknologi
Teknologi khususnya infokom, telah mengubah dunia tempat kita berpijak. Teknologi membuat semua peroduk menjadi barang jasa yang serba digital, membentuk platform baru, marketplace baru dengan perbandingan keadaan yang lama.

b. Munculnya generasi millenial
Munculnya generasi baru yang mendorong gerakan disrupsi, yaitu generasi millenial. Mereka tumbuh sebagai kekuatan mayoritas dalam peradaban baru yang menentukan arah masa depan peradaban.

c. Kecepatan microprosessor
Kecepatan teknologi Menuntut manusia untuk berpikir, bertindak lebih cepat dan berpikir eksponensial bukan linear. Manusia dituntut untuk merespon dengan cepat tanpa keterikatan pada waktu (menjadi 24 jam, 7 hari seminggu) dan tempat (menjadi di mana saja).

d. Munculnya disruptive leader
Dengan munculnya disruptive society, muncul pula disruptive leader yang dengan kesadaran penuh menciptakan perubahan dan kemajuan melalui cara-cara baru. Ini jelas menuntut mindset baru: Disruptive mindset.

e. Mengkesplorasi kemenangan
Bukan hanya teknologi yang tumbuh, tetapi juga cara mengeksplorasi kemenangan. Manusia-manusia baru mengembangkan model bisnis yang sangat disruptive yang mengakibatkan barang jasa lebih terjangkau, muda diakses, sederhana, dan merakyat.

f. Internet of Things
Teknologi memasuki gelombang ketiga: Internet of  Things. Hal ini berarti media sosial dan komersial sudah memasuki puncaknya. Dunia kini memasuki gelombang smart device, smart home, smart city, smart shopping, smart bank, smart transportasi, smart fasilitas umum yang mendorong kita semua hidup dalakarya-karya kolaboratif, inovatif, dan praktis. Ini merupakan realitas baru yang perlu kita hadapi hal ini bisa menjadi peluang sekaligus ancaman bagi usaha kita.

Itulah yang menyebabkan terjadinya disrupsi. Inilah perubahan yang membuat petahana menjadi usang dan kehilangan relevansi dalam menghadapi dunia baru. Petahana yang terbelenggu karena tak ada yang memberitahu, memudar karena menolahkperubahan zaman (Kasali, 2017).

B. Dampak Disrupsi

Rhenald Kasali (2017:5) memaparkan bahwa “Lawan-lawan yang tak terlihat”. Sangat  banyak dampak disrupsi didalam kehidupan contoh kecilnya, yaitu di bidang bisnis. Di New York, masyarakatnya sekarang banyak menggunakan Uber (taksi online). Dampaknya pebisnis lama terganggu dengan adanya sistem atau cara pelayanan model baru. Perusahaan taksi konvensional tergeserkan, kalah dalam persaingan dan meminta pemerintah untuk menangani regulasi. Sama halnya yang terjadi di London, Paris, Brazil, Jakarta. Para pengemudi demo besar-besaran untuk menuntut persamaan hak karena penghasilan mereka turun dan terancam. Dengan adanya teknologi, masyarakat millenals lebih menyukai hal praktis dan online. padahal yang mana dulunya jika ingin berpergian kita harus keluar rumah dan mencari pangkalan ojek terdekat atau menunggu kendaraan yang sedang dipakai oleh keluarga. Itu tidak lagi terjadi, semua itu bisa tergantikan dengan adanya perusahaan transportasi online seperti go-jek, grab, dsb. Tidak hanya itu, perusahanan-perusahaan tersebut dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pokok manusia secara mudah, cepat, dan praktis. Menurut Rhenald Kasali (2017:7) tidak hanya sektor bisnis atau transportasi yang berubah, disrupsi meluas ke berbagai sektor seperti Properti konvensional, ritel konvensional, perbankan atau teller konvensional, penginapan konvensional, otomotif, media, transportasi, keuangan, transaksi dan lain-lain akan terdisrupsi oleh sistem digital yang canggih. 

Dewasa kini, masyarakat melakukan transaksi tidak secara konvensional tapi sudah digantikan dengan sistem yang cepat dan praktis. Misalnya transaksi berbelanja, cukup dengan mengunjungi situs atau menginstall aplikasi e-commerce di gadget anda dan bisa langsung memilih barang dengan mudah dalam tampilan yang sederhana, juga dengan sistem pembayaran online yang praktis dan cepat, dan barang yang dipesan pun sampai ke alamat pengirim. Tanpa harus pergi ke toko dan membayar langsung yang itu lumayan menyita waktu. Walaupun tetap ada minusnya, yaitu tidak bisa melihat bentuk barangnya secara nyata. Tempat-tempat penginapan dan transportasi juga terdisrupsi. Bila mana yang dulunya jika ingin travelling menginap di suatu penginapan harus mengunjungi tempatnya terlebih dahulu, bertemu  dengan customer servicenya untuk memesan, mangantri dan menggunakan cara-cara yang konvensional. Itu tidak akan terjadi lagi, adanya aplikasi yang mudah di akses dengan sistem booking online seperti traveloka dan dapat mengakses penginapan dan penerbangan secara mudah, cepat, dan praktis. Aplikasi-aplikasi seperti ini hasil dari pengembangan Start-Up dapat meningkatkan perekonomian suatu negara karena mempermudah tourist dan backpaker untuk travelling sekaligus memasarkan keindahan tempat-tempat pariwisata di negara tersebut. Kemudian, dengan adanya apps maps seperti google maps dan waze sangat membantu sebagai petunjuk arah dan suatu tempat jika anda ingin berpergian atau tersesat di suatu tempat yang pastinya terhubung dengan wifi atau daring. Kemudian, coba kita lihat model bisnis AIRBNB, model bisnis ini tidak semata-mata menggunakan cara pikir lama. Teknologi memberikan banyak kemudahan dan cara yang baru. belakangan ini banyak model bisnis yang dikembangkan dengan sumber-sumber pendanaan dari luar negeri. Selain karena memiliki sumber dana dengan biaya modal yang lebih murah, mereka membiayai kegiatan usaha kreatif yang masa depannya belom jelas (Kasali, 2017:103). 

Disrupsi juga berdampak pada tatanan sosial masyarakat. Dewasa kini beberapa pemerintahan kota, instansi atau daerah telah menggunakan teknologi dan akses pelayanan yang mudah. Segi sarana dan prasarana, diberbagai instansi sudah menggunakan finger print untuk presensi, menggunakan kamera CCTV, mengeluarkan aplikasi pepustakaan online terdapat e-book, e-magazine, dan literatur lainnya yang bisa diakses umum. Segi sistem dan pelayanan, sudah banyak yang menggunakan pelayanan online untuk membuat kartu atm atau paspor misalkan, customer tidak perlu lagi mengantri dan setelah dapat kode regristrasi bisa langsung mendatangi tempatnya tanpa mengisi formulir konvensional. Di banyuwangi sudah lebih dulu mengadopsi disruptive government dengan digitalisasi pelyanannya agar mudah dipahami. Saat itu professor Rhenald Kasali ingin mewawancarai Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), beliau mengatakan rapat bisa diadakan melalui grup WhatsApp yang berisi kepala-kepala SKPD sampai tingkat camat. Beberapa program tercatat menjadi salah satu pionir di Indonesia, seperti SIM Perizinan, SMS Gateway, Jempol, Klinik UMKM ZIS Online dan Drive-thru PBB. Perlu diingat, ekonomi pariwisata memiliki banyak pekerjaan rumah. Mulai dari fasilitas umum, informasi, kesehatan, pangan, kebersihan, petunjuk jalan, sampai transportasi dan keamanan. Tanpa Smart Goverment yang baik, susah untuk menintegrasikan dan menjamin masa depan yang baik (Kasali, 2017:368). 
Beralih ke teknologi dan mesin mutakhir. Kedepannya pekerjaan manusia akan digantikan oleh mesin. Seperti yang dikatakan oleh penemu teotri disrupsi, Christensen (1997) “teori disrupsi bisa dipakai untuk memprediksi masa depan”. Di berbagai bandara internasional petugas chek-in jumlahnya menurun karena pekerjaan mereka digantikan oleh mesin. Termasuk mesin untuk memeriksa paspor dan visa, serta printer untuk mencetak boarding pass dan luggagge tag. Begitu juga tempat-tempat yang seharusnya di jaga atau operasikan oleh manusia di stasiun, terminal, tol, tempat umum lainnya (Kasali, 2017:16). Teknologi terus berkembang, akan bermanfaat bila digunakan sewajarnya dan berdampak buruk jika telah melewati batas. Salah satu dampaknya semakin canggihnya teknologi semakin tinggi  tingkat pengangguran. Peran manusia akan tergantikan oleh mesin yang mempunyai sistem dan bekerja secara mandiri. Penyebabnya juga karena banyak perusahaan yang menginginkan cara kerja yang lebih efektif dan efesien. Jadi, tidak semua teknologi menguntungkan (Tawangsari, 2017).

C. Menyikapi Tantangan Disrupsi 

Professor Rheinald Kasali dalam bukunya The Great Shifting (2018) menjelaskan bahwa itulah yang terjadi pada era digital ini. Fenomena ini yang dinamakan disrupsi, perubahan sampai ke akarnya. Sekarang, permasalahannya bagaimana cara manusia menyikapi setiap perubahan-perubahan tersebut. Persis seperti yang sudah digambarkan sebelumnya, yaitu Uber, Grab, dan Gojek mendisrupsi bisnis transportasi, Facebook, instagram dan google menguasai lanskap media, dan Airbnb menghempaskan jaringan hotel-hotel besar. Sekarang, hidup rasanya sangat mudah dan praktis untuk naik angkutan umum, pesan makanan, pesan penginapan, hingga baca berita cukup satu sentuhan saja. Padahal, sepuluh tahun lalu banyak dari hal itu baru sebatas angan-angan saja. Rhenald Kasali, pakar manajemen yang juga guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia kerap ditanya, apa muara dari inovasi disruptif yang kini melanda zaman kita? Kita menyaksikan kedatangan wirausahawan baru yang lahir dari start-up menggeser para pemain lama. Lalu kita menyaksikan sedikit perlawanan dari pemain lama ini. Kita melihat perdebatan wacana aspek legal dari masing-masing pemain baru yang mendisrupsi cara-cara lama. Namun, pada akhirnya, abad digital adalah keniscayaan. Para pemain baru itu menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Sebab, mereka membuat hidup kita serba mudah, cepat, dan praktis. Saat ini, mereka sebetulnya tak layak lagi disebut pemain baru. Misalnya, Go-Jek telah lahir delapan tahun lalu. Begitu pula Bukalapak, didirikan pada 2011. Disrupsi telah menghasilkan peralihan (shifting) secara besar-besaran, yang perlu kita pahami bahwa peralihan dari yang konvensional menuju daring atau terhubung ke internet. Bahkan tidak hanya perubahan itu, tapi perubahan pola pikir dan gaya hidup.  Di era disrupsi ini bukan minat seseorang rendah terhadap suatu hal akan tetapi minat mereka berpindah pada hal yang lain, sehingga meninggalkan cara-cara lama. 

Berdasarkan Rumah Perubahan (2017) organisasi yang dikembangkan oleh Professor Rhenald Kasali, ada 3 strategi untuk menghadapi era disrupsi, yaitu:  

1. Jangan Nyaman Menjadi “Pemenang”

Organisasi yang sudah lama berdiri, merasa bahwa dirinya tidak perlu lagi membuat banyak inovasi. Perasaan aman yang muncul tersebut dikarenakan oleh asumsi bahwa pelanggannya akan terus menerus loyal. Padahal pada kenyataannya, pergeseran segmen konsumen (dari yang sebelumnya Generasi X menjadi Millennials) memerlukan pengembangan dari berbagai aspek. Termasuk layanan.

2. Jangan Takut Mengkanibalisasi Produk Sendiri

Belajar dari kasus kebangkrutan Kodak, sebuah organisasi hendaknya selalu melakukan inovasi-inovasi. Termasuk berani menjadi kanibal untuk produknya sendiri. Hal tersebut merupakan salah satu langkah proaktif sebelum pihak lain yang melakukan. Dalam kasus Kodak, mereka merasa bahwa keahliannya dalam penyedia negatif film tidak akan tergerus oleh teknologi. Padahal sebaliknya, kehadiran kamera digital malah membuat Kodak harus gulung tikar.

3. Membentuk Ulang atau Menciptakan yang Baru

Di era disrupsi, Anda masih memiliki pilihan. Apakah Anda ingin melakukan reshape (membentuk kembali) atau create (mencipta). Anda pun juga memiliki pilihan untuk melakukan keduanya. Ketika Anda memutuskan untuk reshape, maka Anda bisa melakukan inovasi dari produk atau layanan yang sudah Anda miliki. Sedangkan jika Anda ingin membuat yang baru, Anda harus berani memiliki imovasi yang sesuai dengan kebiasaan konsumen. Memang terdengar klise, namun apabila Anda dapat “membaca” situasi dengan baik kemudian melihat peluang yang ada, maka Anda pun bisa bertahan di era disrupsi.

Kita harus memahami bahwa disrupsi tidak bisa dihindari karena berjalan berdampingan dengan kenyataan sekarang, zaman terus berkembang dan kehidupan manusiapun juga harus berkembang tidak bisa diam dan harus beradaptasi dengann lingkungan ataupun teknologi. perubahan dari time series menjadi real time, 2D menjadi 3D, 4G menjadi 5G, Produk menjadi platform, owning manjadi sharing, konvensional berubah menjadi digital atau daring, dan offline menjadi online (Kasali, 2018:478). 

  Dewasa kini, gaya hidup, pola pikir, dan cara memenuhi kebutuhan manusia telah berubah. Teknologi dan internet merubah (mendisrupsi) ke segala sudut kegiatan manusia. Pemain lama akan kalah bersaing jika tidak membuka mata dan mengikuti perkembangan zaman. Hal-hal berbau konvensional akan digantikan dengan alat, mesin, cara atau sistem yang lebih cepat, mudah, praktis, dan modern. Seiring berkembangnya teknologi dan internet, banyaknya aplikasi yang dikembangkan oleh Start-Up untuk memudahkan mengakses kebutuhan sehari-hari mulai dari hiburan sampai hal yang membangun produktivitas. Namun, teknologi menjadi boomerang jika tidak dapat di manfaatkan dengan baik. Permisalan dampak mikronya pengaruh pada kesehatan, sikap, atau mental seseorang dan dampak makronya, yaitu pengangguran dan penurunan ekonomi negara. Disrupsi menghasilkan peralihan (shifting). Perusahaan-perusahaan yang terkena disrupsi tidak harus gulung tikar karena minat konsumen terhadap produk rendah. Tetapi perusahaan harus beralih atau menemukan cara-cara yang baru untuk melakukan produktivitas perusahaan dan memerhatikan efisiensi serta efektifitas sistem. 

   Pada intinya manusia tidak bisa terhindar dari dampaknya disrupsi tersebut. Memaksimalkan penggunaan teknologi dan digital untuk hal produktivitas akan lebih baik. Merubah Mind-Set atau Open Minded terhadap perubahan bahwa merubah tidak harus membangun dari awal atau menciptakan sesuatu, tetapi cukup beralih pada sesuatu yang lebih mudah, cepat, dan praktis digunakan. Terkait dampak negatif disrupsi lingkup mikro, seperti kecanduan game mobile-phone dan smartphone yang lebih praktis, menantang, dan kompetitif jikalau berlebihan akan berdampak pada mental, jiwa, menggangu rutinitas sehari-hari dan kesehatan. Alangkah baiknya tidak berlebihan dalam menggunakannya. Di lingkup makro, seperti disrupsi pada tenaga kerja manusia yang semakin hari menurun berujung menghasilkan pengangguran. sulit untuk di antisipasi perubahan tersebut. Sesuatu yang baru mengganti yang lama pasti ada pengorbanan. cara menggantinya dengan beralih (Shifting) pada kebutuhan zaman agar tidak terdisrupsi. Tiap era pasti ada batasnya, dobrak batasan-batasan itu dengan cara membuka mata, tidak acuh terhadap perubahan dan mengikuti model pengembangan zaman.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepintas Negara Jepang

Disiplin Menjadi Rutinitas

OPINI #1 (Covid-19)